Setelah berhasil mengumpulkan mood, ditambah lagi galau
akademik, akhirnya gue putuskan untuk menulis di blog lagi. Yeah.
Kali ini gue mau share pengalaman gue mengenai penampilan.
Gue pengen cerita betapa pentingnya penampilan berdasarkan pengalaman gue.
Yap. Kita hidup di Indonesia yang menurut gue orang-orang
disini cenderung melihat seseorang berdasarkan penampilannya. Awalnya gue agak
cuek sama penampilan gue.
Ke kampus pake kaos, pake celana jeans. Udah.
Kadang pake sendal jepit. Udah.
Kadang-kadang pake kaos dalem putih + sweater. Udah.
Kadang-kadang pake celana jeans, gapake celana dalem. Udah.
Kadang pake sendal jepit. Udah.
Kadang-kadang pake kaos dalem putih + sweater. Udah.
Kadang-kadang pake celana jeans, gapake celana dalem. Udah.
Oke yang terakhir bohong
Intinya gue amat sangat cuek dengan penampilan. Prinsip gue
adalah yang penting berprestasi meskipun penampilan kayak gembel setengah
telanjang.
Suatu ketika gue mendapat kesempatan menjadi panitia sebuah
seleksi penerimaan mahasiswa baru, dan posisi gue adalah penanggung jawab (PJ) sesuatu,
yang berarti gue akan berinteraksi (bahkan menginstruksi) panitia lain yang
bahkan umurnya jauh lebih tua dari gue. Salah satu syaratnya adalah gue
berpakaian rapi ketika acara berlangsung. Di otak gue, yang mindsetnya masih
mahasiswa, berpakaian rapih adalah gue pake celana jeans yang masih bagus, pake
kemeja. Udah.
Hari H pun tiba. Gue berpakaian sesuai dengan mind set gue.
Apa yang terjadi? Yap, sedikit sekali panitia yang gue instruksikan, tidak
menaati instruksi yang gue berikan (instruksi gue sesuai prosedur yang ada dari
panitia pusat).Maksud mereka baik, banyak yang tidak melaksanakan instruksi gue
dan berusaha berimprovisasi sendiri dalam pelaksanaan namun jatohnya malah jadi
salah karena tidak sesuai prosedur.
Hasilnya cukup berantakan dan gue harus
membereskan masalah ini sendiri dan untungnya bisa terselesaikan.
Yang jadi pertanyaan gue adalah, kenapa mereka tidak menaati
instruksi dari gue ya?
Gue sempat berdiskusi dengan partner gue yang lebih tua dari
gue tapi posisinya setingkat dibawah gue (sombong jink wkwk). Apa yang salah
dari gue? Apa gue memberika instruksi kurang jelas? Atau ada sesuatu yang gue
lewatkan? Apa cara komunikasi gue yang payah? Atau gimana?
Dia pun menggelengkan kepala, dan menepuk bahu gue. Gue Cuma
bisa menghela nafas.
Masalah itu terus berkecamuk di kepala gue, karena
menyangkut kredibilitas gue sebagai penanggung jawab. Sampai akhirnya ketika
mau pulang, gue secara tidak sengaja nguping pembicaraan panitia.
“tadi lo gimana? Beres ga?”
“beres dong, ga ada masalah. Gue sih ngerjain tugas sesuai
instruksi yang diberikan aja sama si PJ. Ga mau ribet gue hahaha”
“kalo gue tadi agak sedikit ga beres sih haha. Abisnya pas
brifing gue kurang percaya aja sama PJ nya. Informasi yang gue dapet dari yang
lain beda sih sama si PJ. Udah gitu PJ nya kayak masih mahasiswa gitu, jadi ya
gue ngikut yang lain aja. Hahaha”
“yeee haha gimane lo, harusnya manut aja. Lagian kali aja
dia emang dapet info terbaru dari pusat. tapi udah beres kan?”
“udah sih tadi, eh ayo pulang udah sore”
Gue yang mendengar itu langsung kicep. Yap. Ternyata yang
menjadi penyebab kurang didengarnya instruksi dari gue adalah karena dandanan
gue yang kayak mahasiswa mau kuliah. Dan karena kejadian itu, gue jadi ngeh
betapa pentingnya penampilan, betapa pentingnya dandan.
Alasannya masuk akal sih. Ibaratnya gini, misalkan kita mau
naik pesawat. Ada 2 pesawat, sama-sama maskapai nasional, hanya beda pilotnya.
Yang satu pilotnya pake seragam pilot, yang satu pilotnya pake celana pendek,
pake kemeja, bahkan pake peci. Kira-kira orang akan lebih nyaman terbang sama
siapa?
Jawab sendiri aja hehe.
Karena kejadian itu, mindset gue tentang penampilan dan
dandan menjadi berubah.
Peribahasa “dont judge the book by its cover” gue buang jauh-jauh.
Realitanya, kalo kita ngeliat buku, yang pertama dilihat pasti cover nya kan?
Realitanya, kalo kita mau masuk restoran, yang pertama kita lihat covernya (tampilan luar gedungnya) dulu kan?
Realitanya, kalo kita mau ke dokter praktek gitu, yang pertama kita liat covernya (tampilan depan tempat prakteknya) kan? Jangan-jangan tulisannya praktek dokter tapi tampilan depan tempat prakteknya mirip tempat jasa sedot wc.
Peribahasa “dont judge the book by its cover” gue buang jauh-jauh.
Realitanya, kalo kita ngeliat buku, yang pertama dilihat pasti cover nya kan?
Realitanya, kalo kita mau masuk restoran, yang pertama kita lihat covernya (tampilan luar gedungnya) dulu kan?
Realitanya, kalo kita mau ke dokter praktek gitu, yang pertama kita liat covernya (tampilan depan tempat prakteknya) kan? Jangan-jangan tulisannya praktek dokter tapi tampilan depan tempat prakteknya mirip tempat jasa sedot wc.
Come on guys, kita hidup di Indonesia. Yang masih
mengutamakan penampilan sebagai kesan pertama.
Kesimpulannya: gue harus ganti penampilan
Kesimpulan itu gue terapkan di waktu berikutnya.
Alhamdulillah gue masih dipercaya menjadi PJ.
Kali ini, gue memakai pakaian kemeja lengan panjang, celana hitam, dan
ikat pinggang. Rambut klimis dikit. Dan kemejanya gue masukin. Jadilah gue
seperti orang kantoran. Awalnya sih gue agak risih dan malu, karena penampilan
gue kayak bapak-bapak. Takut dianggap lebay. Tapi yaudah lah akhirnya gue cuek
aja.
Apa yang terjadi? Yap kali ini semua berjalan lancar. Semua
mendengar instruksi gue. Dan yang lebih mengagetkan lagi, ya ternyata dandanan
gue dianggap biasa aja, nggak kayak bapak-bapak seperti yang gue pikirkan.
Bahkan memang seharusnya gue berpenampilan seperti ini, seperti bapak-bapak.
Walaupun beberapa panitia ada yang bertanya-tanya “ih itu mukanya masih muda
banget ya, apa masih mahasiswa ya?” tapi toh mereka manut-manut aja. Hahaha.
Selain itu, gue coba terapkan perubahan penampilan gue itu
di tempat gue magang. Hasilnya? Yap para satpam menyapa gue lebih baik dari
biasanya (yang biasanya mereka bodo amat sama mahasiswa magang haha). Bahkan
gue pernah berkunjung ke fakultas kedokteran UI (dengan berdandan ala bapak-bapak)
dan gue sempet disapa sama asisten lab di sana dengan ucapan “selamat pagi dok”
dan “dokter lagi penelitian disini?”.
WTF. Gue disangka dokter. Penampilan mengubah segalanya.
Dari situ gue mendapatkan pelajaran bahwa penampilan itu sangat
penting. Sangat penting.
Hanya saja, perubahan penampilan ini hanya untuk kesan
pertama. Dan juga harus pada waktu dan tempat yang pas.
Jangan sampe lo ganti penampilan di tempat yang waktu yang
salah, misalnya, lo tiba-tiba berdandan ala eksekutif muda ketika janjian
kongkow sama temen2 lo. Yang ada lo ditelanjangin sama temen2 lo dan dilempar
ke sungai. Hahaha.
Cobain deh. Ganti penampilan lo. Dan lihat apa yang akan
terjadi :-)
1 comment:
gajelas itu asyikk vrohh!!
coba datengin blog gue dong nih kalo lo kesusahan pusing tujuh keliling. sampek ngsot2 nangis terharu mau tahu blog gue. gue dengan hati baik hati kasih tahu : auliatataningn18.blogspot.com datengin ya pliss.. lagi butuh yang liat nihh :D
Post a Comment